Model mulazamah merupakan model pembelajaran tertua di dunia Islam pertama kali diperkenalkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam ketika mendidik para sahabat.
Dengan model pendidikan ala Nabi, lahirlah generasi unggul dunia dan akhirat yang mampu atas izin Allah memerdekakan dunia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya ilmu.
Pendidikan Mendalam dan Personal
Dalam menjalankan proses pendidikan, Mulazamah Mutiara Muslimah menerapkan sistem pendidikan mulazamah; setiap santri ditata untuk langsung menerima ilmu dari guru dalam halaqah kecil dengan guru membersamai dalam kesehariannya.
Guru akan menyesuaikan materi sesuai dengan kemampuan masing-masing santri sehingga meminimalisir ketertinggalan pelajaran seperti dalam sistem kelas bersilabus. Dengan model seperti ini, santri tidak terbebani dengan banyak pelajaran namun bisa menguasai materi yang sedang didalaminya secara fokus dan terarah.
Sistem Mulazamah tidak menggunakan pembatasan ruang seperti kelas-kelas. Santri belajar sesuai dengan jadwal masuk halaqah dari pagi hingga isya dengan jeda-jeda istirahat sehingga lingkungan belajar tercipta dengan baik.
Sehingga model mulazamah memiliki keunggulan:
-
Materi yang Fleksibel: Guru menyesuaikan kecepatan materi dengan kemampuan individu, sehingga tidak ada santriwati yang merasa tertinggal atau terbebani.
-
Fokus dan Terarah: Santri tidak dibebani oleh terlalu banyak mata pelajaran. Fokus utama adalah menguasai satu materi secara mendalam sebelum berpindah ke jenjang berikutnya.
-
Lingkungan Belajar Terbuka: Tidak membatasi ilmu di dalam sekat-sekat ruang kelas yang kaku. Belajar bisa dilakukan di mana saja dalam lingkungan pesantren yang kondusif, mulai dari pagi hingga Isya dengan jeda istirahat yang proporsional.
Perbedaan Model Mulazamah vs Model Klasikal
Berikut adalah poin-poin mendasar yang membedakan sistem mulazamah dengan sistem pendidikan klasikal (sekolah pada umumnya):
|
Model Mulazamah |
Model Klasikal (Umum) |
|---|---|
|
Halaqah Kecil: KBM dilaksanakan secara privat atau kelompok kecil agar perhatian guru maksimal. |
Kelompok Besar: KBM dilakukan di dalam kelas besar dengan jumlah murid yang banyak. |
|
Kitab Ulama: Menggunakan kitab-kitab asli karya ulama besar yang mu’tabar dan jelas atau ringkasan berdasarkan karya ulama. |
Modul: Materi seringkali menggunakan modul yang terkadang penulisnya tidak dikenal (majhul). |
|
Target Personal: Penyelesaian materi diukur berdasarkan kemampuan nyata setiap santriwati. |
Target Silabus: Penyelesaian materi dipatok oleh waktu dan kurikulum tanpa melihat penguasaan tiap murid. |
|
Naik Jenjang Bertahap: Menyesuaikan kemampuan individu, sehingga tidak ada istilah "tinggal kelas". |
Standar Kompetensi: Murid yang tidak memenuhi standar nilai tertentu tidak naik kelas. |
|
Fokus Kebutuhan: Mata pelajaran lebih sedikit namun tepat sasaran dan dibutuhkan santriwati. |
Banyak Pelajaran: Terlalu banyak mata pelajaran yang terkadang kurang relevan dengan kebutuhan santri. |
|
Tahapan Ilmu: Penyampaian ilmu sangat bertahap, mulai dari dasar (mubtadi), menengah, hingga tingkat lanjut dengan berdasar kitab-kitab ulama. |
Mengejar Materi: Terkadang melompati tahapan dasar demi mengejar ketuntasan silabus. |
|
Guru sebagai Uswah: Pimpinan dan Guru membersamai santriwati sehingga menjadi teladan (uswatun hasanah). |
Guru di Kelas: Interaksi guru dan murid terbatas hanya saat jam pelajaran di dalam kelas. |
|
Kekuatan Aqidah & Adab: Keshahihan aqidah dan akhlak guru adalah kunci keberhasilan transfer ilmu. |
Aspek Akademik: Kadang aqidah dan akhlak guru tidak diperhatikan yang penting mengajar. |
|
Hafalan Matan: Hafalan matan kitab menjadi pondasi utama sebelum melakukan analisa dan pemahaman. |
Tanpa Matan: Langsung pada pemahaman tanpa memiliki dasar hafalan teks aslinya. |
|
Prioritas Adab: Penekanan utama pada pendidikan adab sebelum ilmu. |
Prioritas Kognitif: Lebih menekankan pada nilai akademik daripada pendidikan adab. |