
Mutiaramuslimah.com – Suasana sendu mewarnai hari pertama kedatangan santriwati Mulazamah Mutiara Muslimah pasca libur semester ganjil pada Sabtu (3/1/2026). Meski disambut dengan hangat, momen perpisahan dengan keluarga tetap menyisakan kesedihan bagi sejumlah santriwati.
Pantauan di lokasi menunjukkan nuansa haru terutama dirasakan oleh santriwati tahun pertama yang baru menjalani satu semester di pondok. Beberapa santriwati tampak masih terdiam, memilih menyendiri di sudut ruangan, bahkan tidak sedikit yang matanya terlihat sembap karena tangis perpisahan yang pecah saat melepas keberangkatan orang tua.
Fenomena ini tidak hanya melanda santri baru, beberapa kakak kelas pun kedapatan masih menunjukkan raut wajah sendu saat kembali ke asrama. Meski demikian, transisi emosi terlihat cukup cepat bagi sebagian lainnya. Beberapa santriwati yang awalnya menangis tersedu saat orang tua beranjak pulang, terpantau sudah mulai membaur dan kembali bercengkerama dengan rekannya tak lama kemudian.
Pihak pondok sendiri telah melakukan berbagai upaya untuk melembutkan suasana transisi ini. Mudiroh Mutiara Muslimah menyambut kedatangan mereka dengan sajian istimewa berupa opor ayam layaknya suasana Idul Fitri untuk menghadirkan rasa nyaman seperti di rumah sendiri. Selain itu, kebijakan tanpa denda bagi santriwati yang terlambat juga bertujuan meringankan beban mental mereka.
“Prinsip kami adalah kelembutan itu membawa kebaikan dalam semua perkara sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam,” ujar Ustazah Awanda.
Pihak pesantren menyadari bahwa rasa sedih berpisah dari rumah adalah hal yang manusiawi. Begitulah dinamika kehidupan pesantren; sebuah perjalanan tholabul ilmi yang penuh suka dan duka, yang seringkali hanya bisa dipahami secara mendalam oleh mereka yang pernah menjalani kehidupan di balik gerbang pondok.
Kedatangan santriwati ini menandai dimulainya kembali aktivitas belajar mengajar di semester genap dengan harapan niat yang telah diperbarui akan meringankan langkah mereka dalam menuntut ilmu. Ustazah Istianah sebagai mudiroh langsung membersamai santriwati di asrama dan membelanjakan makanan ringan supaya santriwati terhibur dan siap belajar tanpa paksaan.