
Mutiaramuslimah.com – Alhamdulillah, sebuah capaian ilmiah yang kokoh kembali diraih oleh para santriwati di Markas Mulazamah Mutiara Muslimah. Setelah menempuh proses belajar intensif selama kurang lebih tiga bulan, sebagian santriwati resmi menyelesaikan pembelajaran tahap pertama Syarah Hadits Arbain (hadits ke-1 sampai ke-20) pada Jumat (15/5/2026).
Pelajaran syarah Hadits Arbain ini merupakan tahapan krusial pasca-santriwati berhasil menuntaskan hafalan matan Arbain An-Nawawiyah secara mutqin.
Integrasi Hafalan dan Kedalaman Pemahaman
Di Mulazamah Mutiara Muslimah, visi pendidikan kami adalah melahirkan generasi muslimah yang memiliki pemahaman utuh (faqih fiddin). Oleh karena itu, santriwati tidak hanya dituntut menghentikan langkah pada setoran hafalan teks matan ilmiah semata.
Sebab, menghafal matan-matan ilmiah tanpa dibarengi dengan pemahaman yang benar hanya akan menjadi beban ingatan yang kurang berbuah amal. Melalui kelas syarah ini, santriwati dibimbing untuk mengurai makna setiap kalimat hadits, membedah hukum, dan mengambil faedah dari setiap untaian sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.
Kurikulum Berjenjang Menggunakan Kitab Karya Asatidzah
Untuk mewujudkan pemahaman yang matang, pembelajaran syarah ini didasarkan pada dua literatur ringkasan yang disusun secara sistematis oleh Ustadz Zen Ibrahim hafizhahullah, yaitu:
Kedua kitab tersebut merupakan intisari dari kitab Al-Hulalu Al-Bahiyah Syarhu Arbain An-Nawawiyah karya ulama terkemuka, Syeikh DR. Manshur Shoqub hafizhahullah.
Melalui Kitab Mukhtashor, santriwati mula-mula dilatih membaca teks Arab (qira’atul kitab) sekaligus menyerap pemahaman global. Setelah itu, pembelajaran ditingkatkan menggunakan Kitab Khulashoh untuk mematangkan basis keilmuan mereka secara lebih tajam dan mendalam.
Penerapan Deep Learning Melalui Ujian Komprehensif
Selaras dengan metode deep learning yang menjadi ruh sistem mulazamah di Mutiara Muslimah, proses belajar di kelas ini berlangsung secara aktif dua arah. Santriwati tidak sekadar duduk pasif mendengar pemaparan guru, tetapi dituntut memiliki kesiapan mental untuk menjawab berbagai pertanyaan ilmiah secara spontan tanpa melihat teks kitab (fahm ma’al hifzh).
Tentu saja seluruh interaksi tanya jawab tersebut wajib dilakukan dalam bahasa Arab. Beberapa contoh persoalan pelik yang berhasil dikuasai dan dijawab oleh santriwati antara lain:
- Keistimewaan dan kedudukan hadits niat.
- Perkataan Imam Thahir bin Ma’fuz rahimahullah mengenai empat pondasi urusan agama.
- Definisi dan batasan syar’i mengenai konsep wara’, saddudz dzari’ah, atau isti’anah.
- Penjelasan dalil-dalil dari As-Sunnah terkait masalah keimanan terhadap takdir, amalan batin, adab majelis dll.
Persiapan Menuju Tahap Kedua
Pasca-menyelesaikan 20 hadits pertama ini, para santriwati tidak langsung terburu-buru berpindah materi. Mereka akan memasuki fase murojaah (pengulangan) dan mudzakarah (diskusi ilmiah) bersama untuk mengunci pemahaman yang telah didapatkan. Setelah dinilai kuat, barulah mereka diizinkan melangkah ke tahap kedua, yakni hadits ke-21 hingga hadits ke-42.
Dengan menguasai fase awal ini, atas izin Allah, para santriwati telah mempelajari sebagian dari pokok-pokok ajaran Islam beserta dalil-dalil otentiknya di atas pemahaman salafus shalih. Semoga Allah senantiasa menjaga keikhlasan dan mengokohkan hafalan serta pemahaman mereka.