Bahasa Arab bukanlah sekadar mata pelajaran tambahan; ia adalah tangga utama untuk mencapai pemahaman ilmu syar’i. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari agama, mustahil bagi seorang penuntut ilmu untuk menggapai kedalaman syariat secara sempurna tanpa melalui tangga bahasa ini.
Urgensi Nahwu di Mata Para Sahabat dan Ulama
Pada zaman Sahabat, kefasihan berbahasa Arab merupakan cerminan martabat seorang muslim. Kesalahan dalam tata bahasa (Nahwu) bahkan dianggap sebagai suatu aib. Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma diriwayatkan pernah memukul anaknya sebagai bentuk pendidikan yang tegas ketika sang anak melakukan kesalahan tata bahasa saat berucap.
Ketegasan ini bukan tanpa alasan. Al-Ashma’i rahimahullah pernah menyampaikan kekhawatiran yang sangat mendalam bagi para penuntut ilmu:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas pelajar hadits jika tidak mengetahui Nahwu, ia bisa terjatuh dalam ancaman sabda Nabi ﷺ: ‘Siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka silakan menyiapkan tempat duduknya di neraka.’”
Tanpa Nahwu, seseorang berisiko salah dalam memahami ucapan Nabi ﷺ, yang secara tidak sengaja dapat mengubah makna dan berujung pada kedustaan atas nama beliau.
Bagian dari Agama dan Hukum Mempelajarinya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam karyanya yang monumental, Iqtidha Shiratal Mustaqim, banyak menekankan keterkaitan erat antara Bahasa Arab dengan agama. Beliau rahimahullah menegaskan:
“Ketahuilah, Bahasa Arab adalah bagian dari agama. Mempelajarinya hukumnya adalah fardhu (wajib), karena Al-Quran dan As-Sunnah berbahasa Arab. Tidak mungkin memahaminya kecuali dengan menguasai Bahasa Arab. Maka, sesuatu yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hal tersebut hukumnya menjadi wajib.”
Senada dengan hal tersebut, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga mengupas tuntas pentingnya penguasaan bahasa ini dalam kitab Ar-Risalah sebagai syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin berinteraksi dengan dalil-dalil syar’i.
Metode Pendidikan di Mulazamah Mutiara Muslimah
Memegang teguh konsep para ulama salaf, Mulazamah Mutiara Muslimah menerapkan strategi pendidikan yang bertahap. Kami tidak langsung memberikan materi ilmu syariat yang berat kepada santriwati di awal masa belajar.
Sebaliknya, kami fokus membangun pondasi ilmu alat terlebih dahulu. Penguasaan Nahwu dan kaidah bahasa menjadi prioritas utama agar santriwati memiliki “kunci” yang tepat. Dengan pondasi bahasa yang kokoh, para santriwati diharapkan mampu mandiri dalam menelaah kitab-kitab para ulama dan memahami syariat sesuai dengan pemahaman yang benar.
Sumber Ringkasan: Diringkas dari Muhadhoroh Guru Besar Nahwu Universitas Al-Imam Riyadh, Prof. DR. Sulaiman bin Abdul Aziz Al-Uyuni hafizhahullah yang berjudul: “ما يحتاج إليه طالب العلم من اللغة العربية” (Apa yang Dibutuhkan Penuntut Ilmu dari Bahasa Arab).
Video Referensi: Tonton di YouTube