
Setelah kita memahami bahwa Jumlah Mufidah adalah susunan kata (tarkib) yang memberikan makna sempurna, kini saatnya kita membedah “balok-balok penyusun” dari jumlah tersebut. Dalam Bahasa Arab, setiap kata yang kita ucapkan tidak akan lepas dari tiga jenis: Isim, Fi’il, atau Huruf. Memahami perbedaan ketiganya adalah langkah awal agar kita bisa merangkai kalimat dengan benar.
Mari kita perhatikan contoh-contoh yang diambil dari Kitab Nahwu Wadhih berikut ini:
|
No |
Contoh Jumlah |
Arti |
|---|---|---|
|
1 |
رَكِبَ إِبْرَاهِيْمُ الحِصَانَ |
Ibrahim menunggangi kuda |
|
2 |
يُدَاعِبُ إِسْمَاعِيْلُ القِطَّ |
Ismail bermain dengan kucing |
|
3 |
يَحْصُدُ الفَلاَحُ القَمْحَ |
Petani memanen gandum |
|
4 |
تَأْكُلُ الشَّاةُ فُوْلاً وَشَعِيْراً |
Kambing itu makan kacang dan rumput |
|
5 |
سَمِعْتُ النَّصِيْحَةَ |
Aku mendengar nasihat itu |
|
6 |
يَسْطَعُ النُّوْرُ فِي الحُجْرَةِ |
Cahaya itu bersinar di dalam kamar |
|
7 |
تَجْرِي السَّفِيْنَةُ عَلَى الْمَاءِ |
Kapal itu berlayar di atas air |
|
8 |
هَلْ تُحِبُّ السَّفَرَ؟ |
Apakah kamu senang bepergian? |
1. Mengenal Isim (Kata Benda/Nama)
Jika kita perhatikan kata-kata dalam tabel di atas, ada kelompok kata yang berfungsi sebagai nama atau identitas. Inilah yang disebut dengan Isim.
Isim adalah setiap kata yang digunakan untuk menamai manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda mati, tempat, waktu, atau suatu sifat.
Mari kita klasifikasikan dari contoh di atas:
2. Mengenal Fi’il (Kata Kerja)
Selain isim, dalam sebuah jumlah terkadang ada aktivitas atau tindakan yang dalam Bahasa Indonesia disebut kata kerja. Kelompok kata ini disebut fi’il.
Fi’il adalah setiap kata yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan pada waktu tertentu (lampau, sekarang, atau masa depan).
Dari contoh kalimat di atas, yang termasuk fi’il adalah:
3. Mengenal Huruf
Terakhir, ada kata-kata pendek yang berfungsi sebagai “penghubung”, disebut huruf atau harf. Kata-kata ini unik, karena ia tidak bisa berdiri sendiri yang tidak memiliki makna yang sempurna kecuali jika disambungkan dengan jenis kata lainnya (isim atau fi’il).
Perhatikan contoh kata berikut:
Jika kita hanya mengucapkan “Di dalam”, pendengar tentu bingung. Namun jika disambung menjadi “Cahaya bersinar di dalam kamar”, maknanya menjadi sempurna. Inilah fungsi penting huruf dalam sebuah Jumlah Mufidah.
Kaidah Penting
Kitab Nahwu Wadhih memberikan kaidah dasar pada bab ini sebagai berikut:
الكلمة ثلاثة أنواع: اسْمٌ، وفعلٌ، وحرف.
فالاسم: كل لفظ يسمى به إنسان، أو حيوان، أو نبات، أو جماد، أو أي شيء آخر.
والفعل: كل لفظ يدل على حصول عمل في زمن خاص.
والحرف: كل لفظ لا يظهر معناه كاملا إلا مع غيره.
Kata ada tiga macam: isim, fi’il dan huruf.
Isim adalah: Setiap lafal yang mencakup penamaan manusia, hewan, tumbuhan, benda mati atau sesuatu lain yang dinamakan.
Fi’il adalah: Setiap lafal yang menunjukkan aktivitas suatu pekerjaan pada waktu tertentu.
Haruf adalah: Setiap lafal yang tidak bisa dimengerti artinya secara lengkap kecuali jika disandingkan dengan kata lainnya.
Mengapa Mengindentifikasi Bagian Jumlah Mufidah Penting di Mutiara Muslimah?
Di Mulazamah Mutiara Muslimah, kami mengajarkan santriwati untuk teliti membedakan ketiga jenis kata ini. Mengapa? Karena i’rab (perubahan harakat akhir) sangat bergantung pada apakah kata tersebut sebuah isim atau fi’il. Dasar yang sangat penting ini tidak boleh dilewatkan sebagai syarat memahami bab-bab selanjutnya yang lebih rumit.
Dengan bimbingan yang sabar dan bertahap, santriwati akan diajak “berteman” dengan setiap kata dalam Al-Quran, sehingga saat membaca, santriwati tahu mana yang merupakan subjek (isim), mana perbuatan (fi’il), dan mana penghubungnya (huruf).