
Pernahkah terbayang, bagaimana rasanya jika kita berbicara namun orang lain tidak memahami maksud kita? Atau mungkin kita mendengar seseorang berkata di depan kita: “Taman!”. Tentunya kita bingung, ada apa dengan taman itu? Apakah taman itu indah? Ataukah kita diminta masuk ke dalam taman tersebut?
Tetapi jika orang tersebut berkata: “Taman itu indah.” Tentu kita tahu maksudnya, kan? Kita tahu bahwa taman itu pemandanganya menyejukkan, dan tidak perlu bertanya lagi.
Analogi Sederhana: “Taman” Adalah Kata, “Taman itu Indah” Adalah Kalimat
Untuk memudahkan memahami kalimat dalam Bahasa Arab, kita harus membedakan antara kata dengan kalimat. “Taman” adalah kata, sedangkan “Taman itu indah” adalah kalimat. Kata tidak bisa disebut kalimat yang sempurna selama kata-kata tersebut berdiri sendiri.
Ketika kata-kata berkumpul dalam susunan (tarkib) yang benar, ia berubah menjadi kalimat yang sempurna. Misalnya, “Taman itu indah” adalah kalimat yang sempurna/bermanfaat. Ia memberikan informasi yang jelas, membuat pendengar merasa tenang karena sudah paham maksudnya. Inilah yang disebut di Kitab Nahwu Wadhih dengan Al-Jumlah Al-Mufidah (Kalimat yang Sempurna/Bermanfaat).
Hal yang harus diperhatikan:
- Kata dalam Bahasa Arab adalah kalimat (كلمة).
- Kalimat dalam Bahasa Arab adalah jumlah (جملة).
Jadi mulai sekarang kita akan menggunakan istilah jumlah untuk menyebut kalimat Bahasa Arab.
Apa Syarat Disebut Jumlah Mufidah?
Sederhananya, sebuah susunan kata baru bisa disebut jumlah mufidah jika memenuhi beberapa syarat:
- Terdiri dari minimal dua kata.
- Memberikan pemahaman yang tuntas (pendengar tidak bertanya-tanya lagi).
- Setiap kata harus berfungsi merangkai kalimat yang bisa dipahami.
Supaya lebih jelas, mari kita lihat perbandingannya dalam tabel di bawah ini:
|
Contoh |
Arti |
Status |
|---|---|---|
|
البُسْتَانُ جَمِيْلٌ |
Taman itu indah |
Jumlah Mufidah |
|
الشَّمْسُ طاَلِعَةٌ |
Matahari itu terbit |
Jumlah Mufidah |
|
البُسْتَانُ |
Taman |
Bukan Jumlah Mufidah |
|
جَمِيْلٌ |
Indah |
Bukan Jumlah Mufidah |
Contoh Jumlah Mufidah di Kitab Nahwu Wadhih
Nahwu Wadhih memberikan 6 contoh jumlah mufidah yang terdiri dari 2 kata, 3 kata dan lebih dari 3 kata. Contoh-contoh susunan kata tersebut ada yang terangkai isim + isim, fi’il + isim, serta jumlah yang dikombinasikan dengan huruf.
Berikut terjemahan Nahwu Wadhih:
|
No |
Contoh Jumlah |
Arti |
|---|---|---|
|
1 |
البُسْتَانُ جَمِيْلٌ |
Taman itu indah |
|
2 |
الشَّمْسُ طَالِعَةٌ |
Matahari itu terbit |
|
3 |
شَمَّ عَلِيٌّ وَرْدَةً |
Ali mencium mawar |
|
4 |
قَطَفَ مُحَمَّدٌ زَهْرَةً |
Muhammad memetik bunga |
|
5 |
يَعِيْشُ السَّمَكُ فِي الْمَاءِ |
Ikan itu hidup di air |
|
6 |
يَكْثُرُ النَّخِيْلُ فِي مِصْرَ |
Pohon kurma banyak di Mesir |
Contoh Jumlah Mufidah dalam Fi’il
Di dalam Bahasa Arab, fi’il adalah jumlah mufidah walaupun tampaknya seperti satu kata. Misalnya, قُمْ yang merupakan fi’il amri yang artinya perintah “kamu berdiri!”. Padanya mengandung dhomir (kata ganti) أَنْتَ (kamu laki-laki). Sehingga nampak satu kata tetapi sebenarnya terdiri dari dua kata.
Kaidah Jumlah Mufidah
Agar mendapat pemahaman yang baik, Kitab Nahwu Wadhih memberikan kaidah tentang jumlah mufidah:
التَّرْكِيْبُ الَّذِي يُفِيْدُ فَائِدَةً تَامَةً يُسَمَّى جُمْلَةً مُفِيْدَةً، وَيُسَمَّى أَيْضاً كَلاَماً.
Susunan kata (tarkib) yang memberikan pengertian sempurna disebut jumlah mufidah; disebut juga kalam.
الجُمْلَةُ الْمُفِيْدَةُ قَدْ تَتَرَكَّبُ مِنْ كَلِمَتَيْنِ، وَقَدْ تَتَرَكَّبُ مِنْ أَكْثَرَ، وَكُلُّ كَلِمَةٍ فِيْهَا تَعُدُّ جُزْءاً مِنْهَا.
Jumlah mufidah kadang tersusun dari dua kata atau lebih. Setiap masing-masing kata menjadi bagian satu dengan lainnya.
Pengertian dari kaidah tersebut:
Susunan kata atau tarkib yang tidak memberikan pengertian sempurna tidak bisa disebut jumlah mufidah. Tarkib haruslah tersusun minimal dari dua kata.
Jumlah mufidah dalam istilah kitab nahwu klasik seperti Jurumiyah disebut dengan kalam.
Demikian terjemahan Nahwu Wadhih Juz 1 pelajaran jumlah mufidah, yang kami terjemahkan hanya contoh-contoh dan kaidah.