
Ilmu bukan sekadar deretan teks yang dihafal, bukan pula koleksi ijazah untuk dipajang, apalagi sekadar konten foto untuk diabadikan di media sosial. Melalui kitab Ta’lim Al-Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji rahimahullah, kita diajak menyelami kembali hakikat sejati dari aktivitas menuntut ilmu.
Imam Az-Zarnuji membuka pasal pertamanya dengan sebuah penegasan yang menjadi fondasi bagi setiap penuntut ilmu.
Ilmu: Sarana, Bukan Tujuan Akhir
Dalam teks aslinya, Imam Az-Zarnuji menyebutkan bahwa ilmu itu menjadi mulia (syarufa) tatkala ia menjadi wasilah (sarana) menuju kebajikan (al-birr) dan ketakwaan.
إِنَّمَا شَرُفَ العِلْمُ لِكَوْنِهِ وَسِيْلَةً إِلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى
“Sesungguhnya ilmu itu menjadi mulia hanyalah karena ia merupakan sarana (wasilah) menuju kebajikan (al-birr) dan ketakwaan.”
Di Mulazamah Mutiara Muslimah, prinsip ini sangat ditekankan. Kami tidak ingin melahirkan individu yang cerdas secara intelektual namun kering secara spiritual. Kemuliaan seorang santriwati tidak diukur dari seberapa tebal kitab yang ia khatamkan, melainkan dari sejauh mana ilmu tersebut mampu mengubah karakternya menjadi lebih baik (al-birr) dan lebih takwa kepada Allah.
Oleh karena itu, kami tidak menjadikan ilmu atau tahfizh sebagai bahan perlombaan dan rivalitas. Prestasi yang kami harapkan adalah ketika ilmu dan hafalannya menjadikannya pribadi yang shalihah, meskipun secara kuantitas masih sedikit. Inilah alasan mengapa setiap santriwati tidak dipukul rata mempelajari pelajaran yang sama; mereka diberikan asupan ilmu yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Inilah yang disebut dengan Ilmu Hal (Personalized Learning).
Kewajiban Menuntut “Ilmu Hal”
Mungkin kita sering mendengar hadis: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” Namun, Imam Az-Zarnuji memberikan konteks yang sangat praktis: Kewajiban tersebut difokuskan pada Ilmu Hal: ilmu tentang kondisi yang sedang dihadapi yang hukumnya menjadi fardhu ’ain baginya.
Artinya, prioritas utama setiap santri adalah mempelajari apa yang ia butuhkan untuk menjalankan ketaatan saat ini, bukan mempelajari materi yang dipaksakan oleh kurikulum padahal belum ia butuhkan.
- Jika ia sudah wajib shalat, maka ilmu tentang fikih wudhu dan fikih shalat menjadi fardhu ’ain baginya.
- Jika adabnya masih belum lurus, maka pembinaan adab menjadi fardhu ’ain baginya sebelum ia menyentuh kitab Nahwu.
- Jika bacaan Al-Qurannya belum baik, maka ilmu Tahsin menjadi fardhu ’ain yang lebih utama daripada sekadar mengejar setoran Tahfizh.
Inilah jantung dari sistem Mulazamah Mutiara Muslimah. Kami mendahulukan adab dan ilmu dasar yang aplikatif yang fardhu ’ain baginya sebelum melangkah ke cabang ilmu yang rumit. Kami mengajarkan ilmu yang paling dibutuhkan oleh tiap personal santriwati secara mendalam.
Orientasi Kebahagiaan Abadi (As-Sa’adah Al-Abadiyyah)
Ilmu Hal adalah ilmu yang berorientasi akhirat karena ilmu itulah yang paling mendatangkan maslahat nyata bagi pribadi santriwati. Mengajarkan ilmu yang belum dibutuhkan hanya demi mengejar target kurikulum administratif, menurut pandangan Imam Az-Zarnuji, cenderung hanya mengejar kesuksesan duniawi yang semu. Sebaliknya, fokus pada kebutuhan jiwa santriwati akan mengantarkan mereka pada kebahagiaan yang kekal.
Mendidik santriwati bukan sekadar mentransfer informasi, tapi membimbing mereka menemukan sarana (wasilah) untuk kembali kepada Allah dengan selamat. Sebagaimana pesan Imam Az-Zarnuji, tidak semua ilmu harus dipelajari sekaligus. Ilmu tentang bagaimana menjadi hamba yang bertakwa sesuai kondisi saat inilah yang merupakan kewajiban setiap individu.
Orang tua jika memahami pedoman ini akan lapang dadanya dan tidak membandingkan dengan anak orang lain. Juga tidak akan menyalahkan pesantren jika anaknya tampak ketinggalan pelajaran. Sebab kami akan mengajarkan ilmu yang paling prioritas dibutuhkan santri pada saat ini.
Studi Kasus: Memulihkan Jiwa Sebelum Menanamkan Ilmu
Teori tentang Ilmu Hal yang diajarkan Imam Az-Zarnuji bukan sekadar wacana di tempat kami. Kami menyaksikan sendiri bagaimana pendekatan ini bekerja pada salah satu santriwati kami yang sedang diuji Allah dengan ujian yang sangat berat.
Ananda masuk ke Mulazamah Mutiara Muslimah dalam kondisi yatim piatu setelah kehilangan ibu dan ayah dalam waktu yang berdekatan. Jiwanya terguncang hebat. Di pesantren sebelumnya, ia belajar dengan model kurikulum klasikal yang kaku. Saat kami melakukan observasi awal, kualitas hafalan dan bacaan Al-Qurannya pun masih sangat memerlukan perbaikan mendalam.
Mendahulukan Iman Sebelum Al-Quran
Jika kami mengikuti standar kurikulum administratif, kami mungkin akan langsung memaksanya masuk kelas Tahsin atau mengejar setoran Tahfizh. Namun, kami sadar bahwa ilmu hal yang ia butuhkan saat itu bukanlah teori tajwid, melainkan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) serta penguatan iman pada Qadha dan Qadar.
Ia butuh pendampingan agar bisa ridha pada takdir Allah dan kembali berprasangka baik (husnuzhan) kepada Rabb-nya. Ilmu ini tidak kami ajarkan secara teoritis di depan kelas dengan kitab-kitab akidah yang berat. Kami melakukannya secara aplikatif melalui:
- Pendekatan personal yang hangat.
- Nasihat yang menyentuh hati di saat-saat santai.
- Diskusi mendalam sebagai kawan bicara dan orang tua pengganti.
Buah dari Kesabaran dan Ketepatan Metode
Proses “penyembuhan” jiwa ini berlangsung sekitar dua bulan. Kami membiarkannya merasa nyaman terlebih dahulu bersama keluarga barunya di sini. Setelah kondisi mentalnya stabil dan hatinya merasa tenang, barulah kami mulai mengajarkan Tahsin, yang kemudian berlanjut ke Tahfizh.
Hasilnya? Atas keutamaan dan pertolongan Allah, ledakan prestasinya justru lahir setelah jiwanya sehat: Dalam 6 bulan pertama, ia berhasil lulus ujian juziyah Juz ’Amma sekali duduk, sebuah pencapaian yang belum pernah ia raih di sekolah sebelumnya.
Setelah 2,5 tahun nyantri: Atas fadhilah Allah, ananda kini telah menguasai:
- Al-Quran: Hafal 6 Juz dengan kualitas yang terjaga.
- Hadits: Hafal Hadits Arba’in Nawawiyah.
- Nahwu: Hafal Qaidah Nahwu Wadhih Juz 1, Matan Jurumiyah, dan menyelesaikan Tashilul Wushul Ila At-Tuhfatis Saniyah (juz 1-5).
- Adab & Doa: Hafal ’Adiyatun Nabi dan Ringkas Shahih Dzikir Pagi Sore.
Ia juga telah mempelajari syarah Safinatun Najah dan syarah-syarah Nahwu dengan pemahaman yang baik.
Kesimpulan dari Studi Kasus
Kisah ini membuktikan bahwa saat kita memberikan Ilmu Hal yang tepat meskipun itu berarti “menunda” kurikulum formal demi memperbaiki kondisi hati, maka Allah akan memudahkan ilmu-ilmu lainnya untuk masuk.
Di Mulazamah Mutiara Muslimah, kami percaya bahwa santriwati bukanlah robot yang dipaksa mengikuti kecepatan mesin kurikulum. Mereka adalah manusia dengan jiwa yang harus disapa terlebih dahulu. Karena ilmu yang ditanam di atas hati yang lapang akan tumbuh jauh lebih subur dan berbuah keberkahan.