
Problematika akhlak santri menjadi PR besar yang selalu dicari solusinya oleh pesantren. Perkembangan gadget dan isu Gen Z menjadi salah satu tantangan yang membuat masalah semakin kompleks.
Misalnya, BKSPPI Jateng menyelenggarakan seminar khusus mendiskusikan masalah ini.. Mereka menghadirkan beberapa tokoh untuk memikirkan masalah keumatan agar generasi ini terus menjadi baik.
Jika kita mau menengok Kitab Ta’lim Al-Muta’allim, telah memberikan konsep bagaimana memperbaiki akhlak santri. Az-Zarnuji tidak langsung menuju personal anak. Beliau tidak langsung menyalahkan si anak apalagi orang tua yang mungkin dituduh salah mendidik anak.
Lalu siapa yang tertuduh menurut Az-Zarnuji? Setan menjadi terdakwa pertama. Sebagaimana petunjuk Allah:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu).” (Fathir: 6)
Az-Zarnuji langsung menunjuk, setanlah yang memiliki peran utama dalam mendistorsi akhlak santri. Sebab itu cara meluruskan akhlak, santri harus bisa mengalahkan setan.
Caranya? Dengan mencapai sifat waro’. Rahasia ini terdapat pada syair yang dikutip oleh Imam Az-Zarnuji:
فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا * أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِن أَلْفِ عَابِدِ
Sesungguhnya satu orang ahli agama yang memiliki sifat waro’, lebih berbahaya bagi setan daripada seribu ahli ibadah.
Petunjuk ulama ini menjadi kaidah utama pembinaan akhlak santri. Setan tidak akan mampu menjerumuskan santri yang waro’. Ajarkan santri untuk menjadi insan yang waro’ ia akan menjadi anak yang berakhlak mulia.
Oleh sebab waro’ adalah buah dari kepemahaman ilmu agama, maka tugas guru menyadarkan santri untuk tekun menuntut ilmu agama. Berikut adalah syair lengkap yang dibawakan Imam Az-Zarnuji:
تَعَلَّمْ فإنَّ العِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ * وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ المَحَامِدِ
وكُنْ مُستَفِيْدًا كُلَّ يومٍ زِيَادَةً * مِنَ العِلْمِ واسْبَحْ في بُحُورِ الفَوَائِدِ
تَفَقَّهْ فإِنَّ الفِقْهَ أَفْضَلُ قَائِدٍ * إِلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى وَأَعْدَلُ قَاصِدِ
هُوَ العِلْمُ الهَادِي إِلَى سُنَنِ الهُدَى * هُوَ الحِصْنُ يُنْجِي مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ
فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا * أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِن أَلْفِ عَابِدِ
Belajarlah! Karena sesungguhnya ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, keutamaan, serta tanda bagi setiap hal yang terpuji.
Jadilah orang yang selalu mengambil manfaat setiap harinya dengan terus menambah ilmu, dan berenanglah di atas samudra faedah.
Dalamilah ilmu! Karena ilmu agama adalah penuntun terbaik, menuju kebaikan dan takwa, serta jalan yang paling lurus.
Ia adalah ilmu yang menunjukkan jalan-jalan hidayah, ia adalah benteng yang menyelamatkan dari segala kesulitan.
Sesungguhnya satu orang ahli agama yang memiliki sifat waro’, lebih berbahaya bagi setan daripada seribu ahli ibadah.
Tadabur Makna Syair
Syair ini bukan sekadar bait kata, melainkan pedoman hidup bagi setiap guru yang mendambakan kemuliaan akhlak santrinya. Mari kita tadabburi maknanya:
Ilmu sebagai “zain” (perhiasan)
Dunia mengenal perhiasan berupa emas atau intan yang mempercantik lahiriah. Namun bagi seorang pelajar, perhiasan sejati adalah ilmu yang akan memperindah adab, memperhalus lisan, dan memancarkan kewibawaan yang tidak bisa dibeli dengan materi. Seseorang yang berilmu akan terlihat “indah” karena ia menempatkan sesuatu sesuai pada porsinya.
Tugas utama ustadz, menyadarkan santri bahwa menuntut ilmu agama hukumnya wajib sehingga santri tidak belajar dengan pemaksaan. Keindahan seseorang pada ilmu yang dimilikinya dan bukan pada perhiasan fisik.
Simbol segala kebaikan
Ilmu disebut sebagai “’unwanun likulli al-mahamid” (tanda bagi setiap hal terpuji). Artinya, mustahil seseorang bisa mencapai akhlak yang mulia, ibadah yang benar, dan ketaatan yang sempurna tanpa didasari oleh ilmu. Ilmu adalah gerbang utama menuju segala jenis kebaikan yang dicintai Allah.
Prinsip “istifadah” (terus mengambil manfaat)
Syair ini mengajak santri untuk menjadi sosok yang mustafidan (pribadi yang haus akan faedah). Setiap matahari terbit, seorang santri harus memiliki target: “Apa ilmu baru yang saya dapatkan hari ini?”. Tidak boleh ada hari yang berlalu tanpa tambahan nutrisi bagi akal dan ruh kita.
Berenang di samudra faedah
Ungkapan “wasbah fi buhuril fawaid” (berenanglah di lautan faedah) menggambarkan bahwa ilmu Allah itu sangat luas, tak bertepi laksana samudra. Santri diminta untuk tidak hanya berdiam diri di pinggiran, tetapi berani “menyelam” lebih dalam. Semakin dalam kita menyelam, semakin banyak “mutiara” hikmah yang akan kita temukan.
Penuntun kebaikan, takwa dan hidayah
Tanpa ilmu seseorang tidak bisa menjadi baik dan bertakwa. Maka ilmu selain menjadi tanda semua hal yang terpuji, ia juga menjadi penuntun yang paling lurus menuju insan yang mulia. Sebab kemuliaan seseorang dinilai dari takwanya kepada Allah. Ilmu pula yang menuntun seseorang mendapatkan hidayah yang dengannya menyelematkan seseorang dari semua kesempitan dan penderitaan.
Orang berilmu lebih utama dari ahli ibadah
Terakhir adalah buah pemahaman ilmu yang menjadi kaidah kebaikan akhlak santri. Setan lebih takut pada orang berilmu daripada ahli ibadah. Karena alim semua amalannya dikawal berdasarkan ilmu, tidak seperti ahli ibadah yang kurang bersemangat menuntut ilmu sehingga jatuh dalam kebidahan atau kesesatan. Alim yang ditakuti setan harus memenuhi syarat yaitu memiliki sifat waro’.
Ikhtiar Mutiara Muslimah Membentengi Santriwati
Mulazamah Mutiara Muslimah berusaha menerapkan kaidah tersebut. Santriwati diajarkan untuk memiliki sifat waro’ dengan berhati-hati dengan perkara-perkara syubhat. Kami juga memfilter makanan-makanan yang sekiranya syubhat agar tidak dikonsumsi santriwati.
Jadi pendidikan adab di Mulazamah Mutiara Muslimah tidak sekedar memberikan teoritis, tetapi juga melatih sifat waro’ serta memperhatikan perkara-perkara syubhat yang masuk pondok. Menasihati mereka untuk [[waro’ di era digital]] dan menjauhi komentar yang unfaedah.
Mutiara Muslimah tidak mengizinkan foto santriwati dipajang secara vulgar di akun resmi pondok. Kami juga tidak mengizinkan santriwati membuat video konten dakwah berupa drama yang menampakkan seluruh tubuh walau berhijab.
Kami yakin, arahan ulama seperti Imam Az-Zarnuji, santriwati akan mencapai akhlak mulia atas taufik Allah ta’ala.