
Dalam dunia pendidikan pesantren, adab bukanlah sekadar tata krama lahiriah, melainkan pantulan dari kesucian batin. Adab tidak bisa dipaksa dengan peraturan dan sanksi. Karena adab haruslah lahir dari hati.
Imam Az-Zarnuji rahimahullah dalam kitab monumental Ta’limul Muta’allim memberikan rahasia besar: sifat Waro’ adalah metode paling efektif untuk mencetak santriwati beradab mulia. Tanpa sifat ini, adab hanyalah topeng yang mudah tanggal.
Namun, apakah sebenarnya hakikat [[waro’]] itu?
Pilar Waro’ dalam Hadis Arba’in
Petunjuk dari as-sunah mengenai waro’ telah terangkum indah dalam Kitab Arbain Nawawiyah. Yaitu hadits dari cucu Nabi shallallahu ’alaihi wassalm, Al-Hasan bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhuma yang berbunyi:
دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيْبُكَ
“Tinggalkan yang meragukan, dan lakukan yang tidak membuatmu ragu”.
Hadits singkat ini menjadi pokok bab waro’. Semua hadits yang menjadi dalil waro’ bermuara pada hadits Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu* ini. Waro’ adalah “seni memilih di tengah persimpangan keraguan. Waro’ mengajarkan seseorang memiliki kepekaan nurani; jika sesuatu dinilai berpotensi membahayakan akhiratnya, maka meninggalkannya pilihan utama.
Sebagaimana definisi waro’ yang disebutkan dalam kitab Mukhtashor Al-Hulalu Al-Bahiyah: Meninggalkan apa-apa yang membahayakan akhirat dari perkara haram, syubhat atau perkara mubah yang bisa terseret pada keharaman.
Bukan Sekadar Masalah Perut
Perkara yang meragukan yang dimaksud hadist di atas meliputi tiga hal; perbuatan, perkataan dan pemikiran. Sehingga perkara waro’ bukan hanya soal konsumsi makanan dan uang tetapi meliputi dimensi ucapan dan pemikiran.
Contoh penerapan pendidikan waro’ di Mulazamah Mutiara Muslimah:
- Waro’ dalam perbuatan: Santriwati dilatih menjauhi perbuatan nirmanfaat. Misalnya: menghindari kebiasaan tangan yang “usil” saat majelis ilmu atau bercanda fisik yang berlebihan dengan teman.
- Waro’ dalam ucapan: Kami tak jemu mengingatkan santriwati yang senang menjerit, berteriak apabila bagi perempuan atau mengatakan perkataan unfaedah.
- Waro’ dalam pemikiran: Mulazamah Mutiara Muslimah mengajarkan aqidah salaf dan membentengi santriwati dari pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan kemurnian ajaran Islam. Santriwati juga dilarang berlebih-lebihan dalam menghormati guru karena dapat mengarah pada kultus individu.
Derajat Waro’
Waro’ memiliki dua derajat, wajib dan mustahab:
- Waro’ yang wajib adalah: Meninggalkan perkara yang menyebabkan dosa.
- Waro’ yang mustahab adalah: Meninggalkan perkara yang makruh dan syubhat.
Prioritas pendidikan pertama bagi santri adalah memiliki sifat waro’ wajib. Kemudian setelah itu dilatih untuk naik kelas menuju waro’ mustahab. Dengan ini maka Allah akan menjadikan ilmunya sebagai zain (hiasan) yang indah seperti syair:
تَعَلَّمْ فإنَّ العِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ * وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ المَحَامِدِ
Belajarlah! Karena sesungguhnya ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, keutamaan, serta tanda bagi setiap hal yang terpuji.