
Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membedah singkat bagaimana sistem [[sekolah modern]] lahir dari rancangan industrialis untuk mencetak pekerja patuh. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul: Sejauh mana sistem “mesin” ini telah masuk dan menggeser ruh pendidikan di madrasah dan pesantren kita?
Madrasah dan pesantren lahir dari pendidikan Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad. Institusi berbasis keagamaan ini telah menjadi benteng dalam melindungi umat dari penjajahan fisik dan pemikiran (ghazwul fikri). Namun, seiring berjalannya waktu, tanpa disadari, institusi ini telah terjebak dalam logika industrialisasi.
Berikut adalah beberapa indikasi infiltrasi sistem tersebut:
Formalitas Administratif, Ketika Rapor Mengalahkan Adab
Pesantren secara historis dikenal dengan sistem halaqoh dan mulazamah, di mana keberkahan ilmu diukur dari pengamalan ilmu. Namun, pengaruh sistem modern membawa pergeseran:
- Standardisasi Nilai: Keberhasilan santri kini sering kali hanya diukur melalui angka-angka di atas kertas.
- Beban Administrasi: Guru dan kiai kini disibukkan dengan tuntutan akreditasi dan administrasi formal yang sangat menyita waktu, sehingga momen “mendampingi jiwa” santri sering kali terpinggirkan.
- Struktural Hierarkis: Madrasah mulai menerapkan sistem organisasi modern yang kaku seperti perusahaan. Hubungan antara santri, wali santri, dan guru dibatasi oleh sekat-sekat birokrasi, sehingga memudarkan kehangatan ikatan kekeluargaan.
Penyeragaman Kurikulum dan Hilangnya Kedalaman
Sistem industrialis menuntut segala sesuatu serba cepat dan instan. Hal ini berdampak pada kurikulum di banyak madrasah:
- Materi yang Dangkal: Demi mengejar target kurikulum pemerintah atau ujian nasional, materi agama yang seharusnya dipelajari secara deep learning (mendalam) justru diringkas menjadi hafalan-hafalan singkat demi menjawab soal pilihan ganda.
- Marginalisasi Ilmu Alat: Nahwu dan Ushul Fikih sering kali diposisikan sebagai mata pelajaran pelengkap, padahal keduanya adalah “kunci” untuk membuka gerbang ilmu syar’i yang mandiri.
Pesantren sebagai “Lini Produksi” Ijazah
Kekhawatiran akan masa depan ekonomi membuat banyak pesantren mengubah orientasinya. Pesantren kini berlomba-lomba menawarkan “jaminan kerja” atau penyetaraan ijazah agar santri bisa terserap ke dalam dunia industri.
Dampaknya: Santri tidak lagi belajar untuk menjadi ulul albab (pemikir dan penginisiatif) atau khadimul ummah (pelayan umat), melainkan belajar agar layak “dijual” di pasar tenaga kerja. Ruh kemandirian dan keberanian berdakwah sering kali luntur demi kepatuhan pada tuntutan korporasi.
“Sistem Lonceng” yang Menggerus Kedekatan Spiritual
Kehidupan pesantren yang seharusnya mengikuti ritme ibadah (seperti waktu shalat dan qiyamul lail), terkadang mulai dipaksa mengikuti ritme pabrik yang kaku. Jadwal yang sangat padat dan mekanis membuat santri kelelahan secara fisik, sehingga kehilangan “rasa” dalam menuntut ilmu.
Santri hidup di bawah jaros (bel) yang mengatur kehidupan mereka dari bangun tidur, masuk kelas, istirahat, shalat, shalat tahajud dan tidur kembali dengan qismu aman (bagian keamanan) dan kesantrian sebagai [[pengawas produktivitas dan kepatuhan]]. Hubungan guru-murid yang seharusnya intim (seperti ayah dan anak) berubah menjadi hubungan formal antara instruktur dan peserta didik.
Mungkinkah Pesantren Keluar dari Jerat Sistem Ini?
Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah madrasah dan pesantren bisa keluar dari sistem ini? Jawabannya tergantung dengan beberapa faktor:
- Stigma masyarakat: Sistem ini telah berjalan begitu lama sehingga masyarakat menganggapnya sebagai satu-satunya cara hidup yang benar. Lembaga pendidikan Islam yang tidak bisa menyesuaikan dengan sistem sekolah modern justru akan termarginalkan dan dilabeli tradisional.
- Integrasi dunia kerja: Pendidikan sulit diubah karena ia terintegrasi erat dengan dunia kerja yang menuntut efisiensi dan ketaatan yang sama. Terlebih tatkala lembaga pendidikan Islam juga menerapkan model dunia kerja industri dengan tuntutan kepatuhan, klasifikasi, ijazah, jam kerja dan kontrak kerja maka alumni pesantren “tradisional” akan sulit beradaptasi.
- Kepatuhan struktural: Tantangan terbesar adalah memutus rantai “kepatuhan struktural” yang telah mendarah daging, di mana keberhasilan masih diukur dari seberapa baik seseorang bisa dijinakkan oleh sistem, bukan seberapa merdeka ia dalam berpikir.
Pada akhirnya, kita menyadari bahwa tantangan pendidikan Islam hari ini sangatlah kompleks. Banyak pemikir yang berusaha keluar, namun justru terjebak dalam sistem yang sama dengan bentuk yang berbeda. Dari sisi penamaan tampak Islami seperti halaqah atau mulazamah tetapi penerapannya mengikuti sistem modern.
Sebagai muslim yang yakin pada konsep Islam, tugas kita adalah berusaha mengubah semampunya dan kembali menerapkan prinsip pendidikan salaf yang mengedepankan keberkahan ilmu di atas formalitas duniawi. Nas’alullah al-’afiyah.
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (Yusuf: 21)