
Januari 2026, sekitar 1.200 guru besar dan rektor bertemu dengan Presiden di Istana. Pertemuan yang seharusnya membanggakan dunia pendidikan ini ternyata ramai kritikan tokoh. Di media berseliweran judul seperti Kemana Arah Pendidikan Kita atau Ketika Para “Guru Besar” Tunduk pada Kekuasaan. Kritik tersebut menuding kampus telah kehilangan nalar kritis, suara akademik yang melemah dan menyindir ribuan guru besar bungkam pada nasib riset dan anggaran pendidikan yang tergerus oleh program populis seperti MBG.
Di luar hiruk pikuk pro kontra yang segera lenyap ditelan isu lain, pernahkah kita bertanya-tanya tentang sistem pendidikan yang mencetak generasi bangsa ini? Mengapa sistem sekolah hari ini sangat identik dengan seragam, lonceng yang kaku, dan keharusan untuk selalu patuh tanpa boleh bertanya?
Jika kita menilik sejarah, kita akan menemukan sebuah kenyataan pahit: [[sistem pendidikan modern]] bukanlah [[lahir dari rahim kebutuhan ilmu]], melainkan dari rancangan para industrialis Barat pada tahun 1902. Saat para pemilik modal besar seperti John D. Rockefeller memiliki kepentingan besar terhadap sistem pendidikan semasa Revolusi Industri di Amerika Serikat.
Mencetak Bangsa Pekerja
Melalui yayasan General Education Board, Rockefeller menggelontorkan dana super besar untuk membentuk model sekolah modern yang terstandarisasi. Tujuannya sangat spesifik: menciptakan “[[mesin sosial]]” untuk mencetak pekerja yang patuh, disiplin, dan tepat waktu guna mengisi lini-lini produksi pabrik.
Rockefeller secara eksplisit pernah menyatakan bahwa ia tidak menginginkan “bangsa pemikir”, melainkan “bangsa pekerja”. Maka, sekolah didesain bukan untuk memerdekakan akal, melainkan untuk melahirkan manusia yang cakap berprosedur namun tumpul dalam mempertanyakan “mengapa”.
Sekolah sebagai Replika Pabrik
Struktur sekolah sengaja dibuat menyerupai lini produksi industri agar transisi anak-anak menuju dunia kerja terasa “alami”. Hal ini terlihat dari beberapa elemen:
- Standarisasi: Penggunaan seragam dan jadwal kaku untuk menyeragamkan pola pikir.
- Sistem Lonceng: Penggunaan bel dirancang untuk membiasakan anak dengan jadwal kerja pabrik yang menuntut ketepatan waktu mekanis.
- Guru sebagai Mandor: Guru sering kali tereduksi perannya bukan sebagai mentor yang menginspirasi, melainkan [[pengawas produktivitas dan kepatuhan]].
- Kurikulum Ketaatan: Anak-anak diajarkan untuk mahir menjalankan instruksi tanpa ruang untuk berpikir kritis.
Struktur tersebut melekat dari pendidikan TK hingga bangku kuliah sehingga menciptakan karakter yang merusak fitrahnya semula.
Siswa Dibentuk Kurikulum
Selama bertahun-tahun duduk di bangku sekolah mulai dari sekolah usia dini, anak-anak dibentuk oleh kurikulum yang terdiri dari tiga mata pelajaran pokok:
- Ketepatan waktu.
- Kepatuhan.
- Kerja berulang.
Tiga model tersebut merupakan persyaratan pelatihan dasar untuk menghasilkan pekerja pabrik yang andal dan produktif. Pekerjaan pabrik menuntut buruh menerima perintah dari hirarki manajemen tanpa mempertanyakan. Di sekolah, anak-anak sejak belia telah dilatih bertahun-tahun untuk patuh pada peraturan sekolah dan mengikuti kegiatan sekolah apapun itu.
Pabrik membutuhkan orang-orang yang siap bekerja keras di mesin atau di kantor melakukan pekerjaan yang sangat berulang. Di sekolah, siswa dilatih melakukan aktivitas berulang seperti istirahat di jam-jam yang ditentukan, absensi harian, masuk dan pulang sekolah sesuai jadwal, pakaian seragam yang sesuai hari dan lain sebagainya.
Tanpa disadari, seiring perjalanan waktu kehidupan anak-anak semakin ditentukan dan terstruktur oleh kurikulum sekolah. Mereka diidentifikasi berdasarkan tingkatan kelas di sekolah, sama seperti orang dewasa diidentifikasi berdasarkan pekerjaan atau karir mereka.
Penjajahan Mental dan Warisan Kolonial
Indonesia memiliki beban ganda. Kita mewarisi model sekolah Hindia Belanda yang awalnya dibangun untuk mencetak pegawai rendahan bagi pemerintahan kolonial. Meski penjajah secara fisik telah pergi, “mesin” pendidikannya masih tetap sama. Inilah yang disebut [[penjajahan mental]]: di mana masyarakat patuh pada sistem secara sukarela karena merasa itulah satu-satunya jalan menuju sukses.
Kurikulum di sekolah selalu berkembang, tetapi cara mendasar pendidikan diberikan kepada siswa tetap tidak berubah. Meskipun sekarang kita sudah masuk era informasi, individu tetap berlomba mencapai standar yang ditentukan oleh [[sistem algoritma]]. Zaman berubah tetapi mental telah disiapkan untuk patuh pada sistem yang berkembang.
Sekolah dan Dunia Kerja: Sebuah Penjinakan yang Berlanjut
Sistem Rockefeller memastikan bahwa kepatuhan ini tidak berhenti di gerbang sekolah, melainkan berlanjut hingga dunia kerja:
- Logika Perpanjangan: Dunia kerja hanyalah ruang kelas yang lebih besar, dengan atasan sebagai guru dan evaluasi kinerja sebagai rapor.
- Distorsi [[Makna Sukses]]: Keberhasilan diukur dari seberapa baik seseorang menyesuaikan diri dengan hierarki dan target perusahaan yang sering kali dibungkus dengan istilah “profesionalisme”, padahal merupakan bentuk penjinakan karakter.
- Trauma Kegagalan: Sistem peringkat menanamkan rasa takut akan kesalahan. Akibatnya, banyak pekerja takut mengambil risiko atau berpikir di luar kotak karena mentalitas mereka telah dikunci oleh rasa takut akan nilai merah.
Maka diam dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan adalah buah dari model pendidikan ala Rockefeller. Jika kita kembali pada kasus 1.200 guru besar dan rektor, problem utama adalah pada kesalahan “berjamaah” sistem pendidikan dan pengasuhan yang melahirkan generasi bangsa ini.