
Mutiaramuslimah.com – Pelajaran Tata Boga di Markas Mulazamah Mutiara Muslimah selalu hadir dengan menu-menu praktis yang dekat dengan keseharian santriwati. Setelah sebelumnya sukses menguasai pembuatan berbagai macam bumbu dasar tradisional, kali ini para santriwati ditantang untuk mengaplikasikan ilmu meracik bumbu tersebut dalam hidangan populer khas Nusantara, yaitu Seblak di hari tasyri’ (27/5/2026).
Agenda cooking class ini diikuti dengan penuh antusias oleh para santriwati sebagai bagian dari pembekalan keterampilan hidup (life skill) dan kemandirian selama berada di lingkungan pondok. Sembari melepas lelah setelah seharian membaur mengelola daging qurban di masjid bersama masyarakat.
Mengaplikasikan Ilmu Bumbu Dasar
Meskipun dikenal sebagai jajanan kekinian, pembuatan seblak di Mutiara Muslimah tetap mengikuti standar kualitas memasak yang baik. Santriwati diajarkan untuk tidak menggunakan bumbu instan atau penyedap rasa yang berlebihan. Sebaliknya, mereka meracik sendiri bumbu halusnya dari awal.
Komponen utama seblak seperti sayuran dipilih dari bahan-bahan yang segar. Ceker ayam dibeli dari bakul ayam sembelihan syar’i sehingga terjamin kehalalannya. Sedang toping aneka frozen food dipilih yang memiliki label Halal Indonesia.
Melalui bimbingan Ustadzah Istianah hafizhahallah, santriwati belajar menentukan takaran bumbu yang pas agar aroma yang dihasilkan segar dan menggugah selera, tanpa memunculkan rasa pahit.
Proses dilanjutkan dengan menumis bumbu dasar hingga benar-benar matang (tanak) sebelum dipadukan dengan aneka isian sehat seperti kerupuk yang telah direndam, telur, sayuran segar, ceker ayam dan protein tambahan lainnya.
Pentingnya Memperhatikan Kehalalan dan Kehigienisan Makanan
Di samping teknik memasak, poin utama yang ditekankan dalam pelajaran Tata Boga ini adalah kehalalan makanan. Memperhatikan kehalalan merupakan sikap waro’ yang teorinya mereka pelajari di halaqah. Dengan memperhatikan waro’ santriwati akan memiliki adab yang mulia.
Seni belajar waro’ tidak terbatas pada memperhatikan kehalalan makanan, tetapi juga menghindari produk-produk makanan buatan Israel. Mulazamah Mutiara Muslimah mengajarkan untuk memilih bahan baku produk lokal.
Santriwati juga diajarkan kebersihan dan kehigienisan proses pengolahan makanan. Santriwati dididik untuk memastikan seluruh peralatan dapur, bahan makanan, hingga wadah penyajian berada dalam kondisi bersih. Dapur tidak perlu mewah, tetapi bersih.
“Memasak untuk diri sendiri maupun orang lain adalah bentuk khidmat. Oleh karena itu, kita tidak boleh asal membuat makanan yang sekadar enak di lidah, tetapi harus dipastikan prosesnya bersih, menggunakan bahan yang halal, dan menyehatkan bagi tubuh,” terang Ustazah Istianah hafizhahallah pengajar Tata Boga Mutiara Muslimah.
Bekal Kemandirian dan Kebersamaan Santriwati
Setelah masakan matang, para santriwati bersama-sama menyajikan seblak hasil karya mereka untuk dinikmati bersama di teras pondok. Momen ini tidak hanya melatih keterampilan kuliner, tetapi juga mempererat rasa kebersamaan, kerja tim, dan ukhuwah di antara sesama santriwati.
Dengan variasi menu tata boga yang beragam—mulai dari makanan berat, bumbu dasar, hingga camilan tradisional, Mulazamah Mutiara Muslimah berkomitmen penuh untuk melahirkan lulusan generasi muslimah yang seimbang. Mereka tidak hanya dididik agar cerdas dan mendalam secara keilmuan syar’i, melainkan juga tumbuh menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, dan terampil dalam mengurus urusan domestik rumah tangga kelak.